BAB 9: BAGAIMANA PERJALANAN MENUJU IMPIAN KEUANGAN BERUBAH MENJADI MIMPI BURUK KEUANGAN

Cerita kelasik tentang orang-orang yang bekerja keras membentuk pola tertentu. Pasangan muda yang baru menikah,bahagia,dan berpendidikan tinggi tinggal di apertemen sewa yang sumpek. Mereka segera menyadari bahwa mereka bisa menabung karena dua orang bisa hidup sama murahnya seperti satu orang.

Masalahnya,apertemen itu sumpek. Mereka memutuskan menabung untuk membeli rumah impian mereka supaya bisa memiliki anak. Sekarang mereka memiliki dua penghasilan,dan mereka mulai memfokuskan diri pada karier mereka. Penghasilan mereka meningkat. Ketika penghasilan mereka meningkat,pengeluaran mereka juga bertambah.

pengeluaran nomor satu bagi kebanyakan orang adalah pajak. Banyak orang mengira itu pajak penghasilan,tapi bagi kebanyakan orang,pajak tertinggi adalah Jaminan Sosial. Bagi seorang karyawan,tampaknya seolah-olah pajak Jaminan Sosial digabung dengan tarif pajak Layanan kesehatan memiliki besaran sekitar 7.5% tapi sesungguhnya 15% karena pemberi kerja juga harus menyetorkan Jaminan Sosial dalam jumlah yang sama. Intinya,itu uang yang tidak bisa dibayarkan oleh pemberi kerja kepada Anda. Di atas semua itu,Anda masih harus membayar pajak penghasilan atas jumlah yang dikurangkan dari upah Anda untuk pajak Jaminan Sosial,penghasilan yang tidak pernah Anda terima karena langsung disetor untuk Jaminan Sosial.

Kembalike pasangan muda tadi. Karena penghasilan mereka bertambah mereka memutuskan membeli rumah impian mereka. Setelah tinggal di rumah baru,mereka memiliki pajak baru,yang disebut pajak properti. Kemudian mereka membeli mobil baru,furnitur baru,dan peralatan baru yang sesuai rumah mereka. Tiba-tiba mereka terjaga dan kolom liabilitas mereka penuh hipotek serta utang kartu keredit. Liabilitas mereka bertambah.

Mereka sekarang terjabak di Balap Tikus. Dalam jangka singkat mereka punya anak dan bekerja makin keras. Proses itu beruang dengan sendirinya: Penghasilan makin tinggi membuat pajak makin tinggi,yang disebut juga "bracket creep". Karu kredit tiba. Mereka menggunakanya sampai limit maksimal. Perusahaan kreditor menelpon dan mengatakan bahwa "aset" terbesar mereka,rumah mereka,sudah di taksir nilainya. Karena kredit mereka sangat bagus,perusahaan itu menawarkan peminjaman sejumlah uang untuk melunasi utang rekening sebelumnya yang sudah harus di bayar,dan memberitahu mereka akan cerdik bila mereka menghapus utang konsumen yang berbunga tinggi dengan melunasi kartu kredit mereka. Selain itu,bunga atas rumah mereka adalah pengurangan pajak. Mereka tertarik dan melunasi kartu kredit yang berbunga tinggi itu. Mereka menghirup nafas lega. Kartu kredit mereka sudah lunas. Hutang mereka ditutup dengan Hipotek rumah. Cicilan mereka turun karena mereka memperpanjang utang sampai tiga puluh tahun lebih. Itu hal yang cerdik.

Tetangga mereka menelpon dan mengajak berbelanja. Obral menjelang hari raya sedang di gelar. Mereka berjanji dalam hati sekedar melihat-lihat,tapi membawa kartu kredit,sekedar untuk berjaga-jaga. Saya bertemu banyak pasangan muda seperti ini. Nama mereka berbeda,tapi dilema keuangan mereka sama. Mereka bertanya pada saya, "Bisakah Anda memberitahu kami cara menghasilkan uang yang lebih banyak?"

Mereka tidak mengerti bahwa masalahnya sesunggunya adalah cara mereka memilih membelanjakan uang yang mereka miliki. Itu disebabkan oleh buta keuangan serta tidak memahami perbedaan antara aset dan liabilitas.
uang yang lebih banyak jarang menyelesaikan masalah keuangan seseorang. Kecerdasan yang memecahkan masalah.
Ada perumpamaan yang berulang kali saya katakan kepada teman saya: "Kalau Anda mendapati diri sedang menggali sebuah lubang,Berhenti menggali."

Comments

Popular posts from this blog

Bagian 2: Memulai hidup Baru

Kata Pembuka